Ringkasan Kotbah

Allahku Dahsyat
Mazmur 76
Pdt. Em. Anni P. Saleh

Allah terkenal dan masyhur
Mazmur ini dibuka dengan sebuah pernyataan yang menarik: “Allah terkenal di Yehuda, nama-Nya masyhur di Israel” (ayat 2). Istilah Allah “terkenal” dan “masyhur”yang digunakan, menunjuk pada hasil dari sebuah proses perenungan terhadap peristiwa-peristiwa faktual yang dilakukan oleh Allah dalam hidup Israel sebagai sebuah bangsa. Peristiwa-peristiwa yang dialami itu memberi kesadaran akan siapa Allah dan karya-Nya dalam hidup mereka. Dia adalah Allah yang peduli, yang menolong umat-nya.


Ada sangat banyak bukti tindakan Allah yang menolong umat-Nya. Contoh: Keluaran 1 mencatat, ketika Firaun memerintahkan bidan Sifra dan Pua untuk membunuh bayi laki-laki yang dilahirkan oleh perempuan Ibrani, keduanya tidak melaksanakan perintah raja, karena mereka takut akan Allah. Bagi orang Mesir, perintah raja adalah mutlak. Apa yang dilakukan bidan-bidan itu menunjukkan bagaimana Allah memakai orang-orang untuk menolong umat-Nya. Beberapa pasal selanjutnya dalam kitab Keluaran mencatat sepuluh tulah yang terjadi di Mesir. Allah menyampaikan tulah yang akan terjadi kepada raja Firaun melalui hamba-Nya, Musa. Mengapa sepuluh tulah? Karena baru pada tulah ke sepuluh itulah raja Mesir mengijinkan Musa dan bangsa Israel pergi meninggalkan perbudakan di Mesir. Allah adalah Allah yang tidak setengah-setengah dalam menolong. Allah adalah Allah yang memberi kelepasan.

Pengenalan akan Allah itu menjadi semakin dalam ketika Ia menolong umat-Nya yang terjebak di antara kejaran prajurit-prajurit Mesir yang hendak membawa mereka kembali ke Mesir dan Laut Teberau yang tidak mungkin dapat diseberangi dengan berjalan kaki oleh rombongan yang sangat besar itu. Namun Allah mempunyai cara-Nya sendiri  untuk menolong umat-Nya. Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya ke Laut Teberau dan laut itu terbelah.  Tersedia daratan kering yang dapat dilalui seluruh umat Allah dan hewan bawaan mereka dengan selamat hingga ke seberang.

Bangsa Israel mempunyai alasan yang sangat kuat untuk berkata Allah terkenal dan masyhur di antara mereka. Allah itu adalah tempat mengungsi ketika permasalahan hidup melanda, Allah adalah tempat perteduhan dari kesesakan. Kebenaran ini dinyatakan dalam ayat 3. Pemazmur mengatakan, “di Salem sudah ada pondok-Nya”. Istilah pondok yang digunakan tidak hanya menunjuk pada kehadiran Bait Allah di Yerusalem, tetapi terutama kepada suatu tempat perlindungan bagi orang-orang yang mengalami kesesakan. Dengan indah ayat ini mengajarkan, kapanpun ketika engkau menjadi tak berdaya oleh persoalan hidup, berlarilah kepada Allah, karena Dia adalah tempat perteduhan dan perlindungan yang sungguh.


Dalam berbagai peristiwa, Allah bertindak dengan melibatkan umat-Nya, tetapi ayat 4 mencatat bahwa Allah juga bertindak ganti Israel yang telah menjadi tidak berdaya. Konteks Mazmur ini adalah pengepungan kota Yerusalem oleh Sanherib, raja Asyur dan pasukannya dalam jumlah yang sangat banyak. Pengepungan itu menjadi tekanan yang sangat besar bagi Hizkia, raja Yehuda, karena Sanherib memprovokasi orang-orang Israel dengan pernyataan: “Apakah yang kamu harapkan, maka kamu tinggal saja di Yerusalem yang terkepung ini? Bukankah Hizkia memperdaya kamu supaya kamu mati kelaparan dan kehausan, dengan mengatakan: TUHAN, Allah kita akan melepaskan kita dari tangan raja Asyur? (2 Tawarikh 32:10-11). Ada banyak celaan dan hujatan terhadap Allah Israel yang diucapkan oleh Sanherib dan Allah bertindak ganti umat-Nya. Pada suatu malam, Malaikat Tuhan datang keperkemahan prajurit Asyur dan 185 ribu prajurit itu mati. Allah membuat panah, perisai, pedang dan alat perang tidak berfungsi sebagamana seharusnya. Allah berkuasa menolong pada saat umat-Nya sama sekali tidak berdaya.

Allah berkuasa menolong umat-Nya dengan cara-cara yang luar biasa. Tetapi memercayai Allah bukanlah semata karena Ia telah menyelesaikan masalah hidup yang melanda. Memercayai Allah adalah iman kepada Pribadi Allah. Iman seperti itu dapat kita teladani dari  Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Ketika mereka berhadapan dengan pilihan untuk menyembah patung emas yang menjadi representatif raja Nebukadnezar atau tidak mau menyembah dan akan dibuang ke dalam perapian yang menyala-nyala, iman ketiganya tidak goyah. Mereka yakin Allah tahu yang terbaik dan berkuasa menolong, karena itu dengan lantang mereka berkata: “Jika Allah yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, kami tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan (Daniel 3:16). Sadrakh, Mesakh dan Abednego memercayai Allah, karena Dia adalah Allah.

Masalah manusia
Percaya kepada Allah bukanlah hasil dari sebuah proses berpikir dan hasrat hati manusia. Percaya kepada Allah adalah anugerah. Apa yang diucapkan Firaun, raja Mesir membuktikan hal itu. Ketika Allah mengutus Musa menghadap Firaun dan menyampaikan firman Allah yang berkata: “Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun”, Firaun menjawab: “Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya: (Keluaran 5:1b-2).
Kenyataan ini menolong kita mensyukuri ketika hati dan mulut kita berucap “saya percaya kepada Allah”. Anugerah itu sampai di dalam hidup kita. Anuegrah itu diberikan kepada kita.

Namun, persoalan inilah yang acap terjadi:  menjadi percaya kepada Allah dianggap cukup hanya dengan mengucapkannya, tanpa menyadari perlunya terus bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah. Padahal mengenal Allah adalah keuntungan besar. JI. Packer dalam buku-nya Knowing God menegaskan hal tersebut melalui pernyataan: “... kita sedang bersikap kejam terhadap diri sendiri, jika kita berusaha hidup di dunia ini tanpa tahu apapun tentang Allah yang menjadi pemilik dan pemelihara dunia ini”. Bertumbuh dalam pengenalan akan Allah adalah kebutuhan bagi manusia.

Pentingnya bertumbuh dalam pengenalan akan Allah
Menjelang akhir hayatnya, raja Daud menasehati Salomo anaknya: “Dan engkau anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu ...” (1 Tawarikh 28:9). Mencerna nasehat ini dalam perspektif Packer berarti, untuk tidak bersikap kejam terhadap diri sendiri, maka seseorang harus dengan sadar menyediakan waktu untuk membaca firman Allah, mempelajarinya, merenungkannya, berefleksi atas kebenaran yang diajarkan dan berusaha melakukannya.

Tentang melakukan firman Allah, berapa banyak ajaran yang mendesak manusia untuk berjuang dengan kekuatannya sendiri untuk melakukan apa yang mereka yakini sebagai perintah Tuhan? Ketika Mazmur ini menyebut nama Allah, Dia adalah Elohim, nama yang menunjuk kepada Allah Tritunggal: Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus. Sekarang sebagai orang percaya kita bisa berkata: Allah terkenal dalam hidup saya, karena Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal menjadi Juruselamat di dalam hidup saya. Oleh karya penebusan Yesus Kristus, kita menjadi manusia baru. Dan sebagai manusia baru, Roh Kudus berdiam di dalam kita. Roh Kudus adalah Roh Penolong yang memampukan kita untuk menjalani hidup sesuai firman-Nya. Oleh pertolongan Roh Kuduskita dapat bertanggung jawab membangun disiplin diri mempelajari firman Allah dan dalam menaatinya.

Respon terhadap pengenalan akan Allah
Ada hal penting untuk kita pelajari dari Pemazmur ketika seseorang mengakui siapa Allah dan karya-karya-Nya, yaitu:
•    Mengakui bahwa Allah cemerlang (ayat 5)
Pemazmur mengakui bahwa  Allah yang dikenalnya lebih mulia dibanding gunung-gunung yang sudah ada sejak purba. Gunung pada zaman purba dipahami sebagai sesuatu yang mistis, tempat bersemayam para dewa. Pengenalan akan Allah melahirkan sebuah pengakuan iman, tidak ada yang lebih hebat dari Allah yang dipercayainya, termasuk dewa-dewa yang ditakuti dan disembah oleh orang-orang sezamannya.

Pengenalan akan Allah membuat Pemazmur menempatkan Allah sebagai yang terutama. Tidak ada allah yang yang patut disembah; allah yang pada zaman ini bisa saja mewujud dalam keinginan sendiri yang mengatasi kehendak Tuhan di dalam hidup kita.

•    Mengakui bahwa Allah dahsyat (ayat 8)
Pengakuan Pemazmur ini menjadi gamblang dengan mengingat sekali lagi pengepungan Sanherib dan prajurit-prajurit Asyur atas Yerusalem. Pada saat itu dengan sesumbar, Sanherib berkata: “Tidakkah kamu ketahui apa yang aku dan nenek moyangku lakukan terhadap semua bangsa negeri-negeri lain? Apakah para allah bangsa-bangsa segala negeri itu pernah berhasil melepaskan negeri mereka dari tanganku? Masakan Allahmu dapat melepaskan kamu dari tanganku?” (2 Tawarikh 32:13-14). Sanherib menganggap dirinya mampu mengendalikan segala sesuatu. Nisrokh, dewa sembahannya dianggapnya lebih dari Allah Israel dan mampu membuatnya terlindungi dan memenangkan setiap peperangan. Tetapi anggapan Sanherib bukanlah kebenaran. Itu hanya keangkuhan yang tak berdasar, karena pada suatu hari ketika ia masuk ke dalam kuil untuk bersembahyang kepada Nisrokh, dewa sembahannya, kedua anak lelakinya datang ke dalam kuil dan membunuhnya.

Pemazmur berkata: “Dahsyat Engkau”, karena Allah yang disembahnya tidak sama dengan Nisrokh, juga tidak sama dengan Sanherib. Allah mengendalikan segala sesuatu dan di dalam kuasa-Nya yang dahsyat, Ia bertindak membela umat-Nya.

•    Bayarlah nazarmu
Respon terhadap Allah yang dikenalnya, membawa Pemazmur pada puji-pujian
dan penyembahan secara verbal. Ia mengagungkan Allah yang cemerlang dan dahsyat. Tetapi respon terhadap siapa Allah dan karya-karya-Nya dalam hidup orang percaya tidak hanya itu. Pemazmur memberi peringatan penting. Memercayai Allah berarti membayar setiap nazar atau janji yang pernah kita ucapkan kepada-Nya. Janji itu bisa saja terkesan janji yang lazim diucapkan orang percaya, misal: Tuhan apabila masalah saya selesai, maka saya akan mengambil bagian dalam melayani Tuhan. Tetapi segera setelah masalah itu selesai, janji itu dilupakan. Pengkhotbah 5:3 menuliskan “Allah tidak senang dengan orang yang tidak memenuhi janjinya. Ia disamakan dengan orang yang bodoh

Poin utama untuk direnungkan
Allah dahsyat adanya. Ia mempedulikan masalah kita baik yang menyangkut masa kini, maupun yang berurusan dengan kekekalan. Ia mampu melakukannya, karena Ia adalah Allah yang berkuasa. Ia mau kita bertumbuh di dalam pengenalan akan Dia, sehingga di dalam menghadapi hidup ini kita tidak bersikap kejam kepada diri sendiri.

Tuhan kiranya menolong kita terus bertumbuh di dalam pemahaman betapa beruntungnya mengenal Dia, karena hidup di dunia yang kompleks ini tidak kita jalani sendiri, tetapi bersama Dia yang berkuasa dan mau menolong kita. Amin



=APS=

Follow Us on Instagram

Menu Utama

Sedang Online

We have 412 guests and no members online