Ringkasan Kotbah

Tema : “Hidup Dalam Waktu Yang Dipinjamkan
Lukas 13 : 1-9
Oleh: Pdt. William Liem

TIDAK MENGHASILKAN BUAH
Di Amerika, ada seseorang yang bernama Walter Samaszko. Ketika ia meninggal ditemukan bahwa di rumahnya terdapat koin-koin emas yang bila dirupiahkan dapat mencapai lebih dari Rp. 90 milyar. Tragisnya, selama hidupnya, ia hidup untuk dirinya sendiri, tidak pernah melakukan sebuah kebaikan atau dan tidak pernah menjadi berkat bagi orang lain. Walter Samazko adalah contoh orang yang tidak menghasilkan buah.


POHON ARA YANG DITANAM DI KEBUN ANGGUR
Dalam bacaan kita menemukan sebuah perumpamaan tentang pohon ara yang ditanam di kebun anggur. Dengan ditanam di kebun anggur, berarti pohon ara ini mendapat kedudukan istimewa. Ada harapan bahwa dengan perlakuan yang istimewa tersebut pohon ara ini bisa berbuah lebat. Namun, tragisnya, pohon ara ini tidak menghasilkan buah.

Pohon ara yang baik dalam setahun dapat terus berbuah hampir sepanjang tahun (± 10 bulan) dengan buah yang banyak dan enak. Namun, tidak demikian dengan pohon ara yang ditanam di kebun anggur tersebut. Ketika pohon ara itu sudah waktunya berbuah, ia tidak berbuah. Tahun lepas tahun sang pemilik kebun datang untuk mencari buah dari pohon ara ini tetapi hasilnya nihil. Sehingga dengan kecewa dan marah, pemilik kebun ini berkata, “Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!” (ay. 7).

Mengapa pohon ara itu harus ditebang? Karena pohon ara tersebut tidak ada gunanya. Pohon ara yang sudah berusia 6 tahun dan belum berbuah, dapat dipastikan tidak akan berbuah seterusnya. Keberadaannya akan mengambil tempat yang banyak di kebun anggur, akarnya akan mengisap segala gizi dan mineral dari tanah yang dibutuhkan tanaman lain. Itulah sebabnya, kegunaannya cuma satu: ditebang dan dijadikan kayu bakar.  Seperti itulah pohon ara yang ditanam di kebun anggur itu, tidak ada gunanya.
Dalam kehidupan, ada orang yang mirip dengan pohon ara ini. Sebagai contoh, ada pemuda dengan dua tato: di dada, gambar Tuhan Yesus dan dan di punggung, gambar Iblis. Melalui dua tato tersebut ia hendak menyampaikan bahwa ia mau serius mengikut Yesus yang berada di depannya dan memunggungi Iblis yang di belakangnya. Namun, tidak lama setelah ia keluar penjara, ia ditangkap lagi karena melakukan kejahatan yang serupa. Contoh yang lain: ada seseorang yang sudah divonis hukuman mati karena terjerat narkoba, tapi ketika dipenjara, ia tertangkap lagi karena sedang transaksi narkoba.

RESPONS SI TUKANG KEBUN
Berbeda dengan pemilik kebun yang ingin menebang pohon ara tersebut, sang tukang kebun memberikan respon agar pohon ara tersebut diberi kesempatan hidup 1 tahun lagi. Sang tukang kebun berkata, “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan ia berbuah, jika tidak, tebanglah dia!” (ay. 8-9). Satu tahun yang diminta tersebut dapat disebut sebagai grace period atau waktu tambahan.

Setiap orang diberi Tuhan grace period atau waktu tambahan. Namun, grace period ini suatu saat pasti berakhir. Ada seorang yang divonis kanker. Singkat cerita, orang tersebut sembuh dari kankernya. Namun, setelah tiga tahun, ia meninggal karena kecelakaan jalan raya. Tiga tahun itu adalah waktu tambahan yang diberikan Tuhan untuk orang tersebut.

BUAH YANG TUHAN INGINKAN DARI ANAK-ANAKNYA
Tuhan menginginkan agar anak-anakNya berbuah. Pertanyaannya, buah apakah yang diinginkan Tuhan dari anak-anakNya? Ada tiga buah yang dibagikan pada kesempatan ini:
1.    Buah Pertobatan
Matius 3:8 menyatakan, “Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” Tuhan menginginkan buah pertobatan.

Mel Trotter, dulunya, adalah seorang pemabuk berat. Akibat kemabukannya, ia sangat miskin. Ia akan lakukan apapun demi memperoleh alkohol. Oleh kesaksian Harry Monroe, ia bertobat. Dalam pertobatannya, ia kemudian mendirikan 60 Misi Penyelamatan di Amerika untuk menolong para  pemabuk. Mel Trotter menghasilkan buah pertobatan.

2.    Buah Kebaikan
Selain buah pertobatan, Tuhan menginginkan kita menghasilkan buah kebaikan. Efesus 2:10 menegaskan hal ini ketika dinyatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”. Matius 5:16 menyerukan hal yang senada dengan pernyataan, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:16).

Agama Kristen dikenal sebagai agama kasih. Sebuah perbuatan kasih yang tulus akan berbicara lebih keras dari 10 ribu perkataan. Sebaliknya kalau orang Kristen menolak berbuat kasih (baik), kelakuannya akan menjadi batu sandungan

Vuza’mazulu adalah salah satu orang yang tersandung oleh orang Kristen. Dalam bukunya yang berjudul, “Africa Is My Witness”, ia bercerita tentang kepahitan hidup yang dialaminya terhadap Kekristenan di Africa. Dalam kebudayaan asal suku Vuza’mazulu, seseorang harus dikuburkan secara layak. Gereja, sebagai pengelola tempat pemakaman, menolak permintaan Vuza’mazulu untuk menguburkan anaknya secara layak karena tempat pemakaman tersebut hanya diperuntukkan bagi orang Kristen. Akibatnya, ia tidak dapat memakamkan anaknya secara layak. Inilah sebab ia menyatakan “Mengapa  Kekristenan gagal di Afrika”.

Contoh lain orang yang tersandung oleh orang Kristen adalah Mahatma Gandhi. Ia sangat mengagumi Yesus dan ajaran-Nya. Ia ingin masuk gereja. Namun, di gereja tersebut ia ditolak karena gereja tersebut hanya diperuntukkan bagi orang kulit putih. Inilah sebabnya ia berkata, “Saya suka Kristus kalian, saya tidak suka kalian, orang Kristen. Kalian orang Kristen begitu tidak sama dengan Kristus kalian.”

Tuhan menginginkan kita menghasilkan buah kebaikan. Itu sebabnya Bunda Teresa berkata, “Dunia tidak memerlukan orang-orang besar untuk melakukan tindakan yang besar. Dunia memerlukan orang-orang yang bersedia melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”

Ketika orang Kristen melakukan perbuatan yang baik, ceritanya akan tersebar. Hal ini seperti yang terjadi dengan salah satu anggota “The Three Tenors”. Carreras, salah satu anggotanya terkena kanker yang menghabiskan kekayaannya sehingga ia tidak lagi mampu untuk menjalani pengobatannya. Namun, ketika ia hendak menghentikan pengobatannya, ada sebuah yayasan yang membiayai pengobatannya. Ternyata, yayasan tersebut adalah yayasan yang didirikan oleh Domingo, anggota lain dari “The Three Tenors”. Menariknya, ternyata Domingo dan Carreras dulunya adalah orang yang saling benci. Mereka bagaikan anjing dan kucing yang tidak bisa akur. Dengan mengesampingkan rasa bencinya, Domingo melakukan kebaikan kepada Carreras melalui yayasan yang didirikannya tersebut.

3.    Buah Penginjilan
Buah lain yang dikehendaki Tuhan adalah buah penginjilan. Rasul Paulus mengatakan “Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma” (Roma 1:14-15). Paulus menghasilkan buah penginjilan.

Charles C. Luther, seorang penyair bertemu dengan temannya bernama A. G. Upham yang adalah seorang pendeta. Pendeta ini menyaksikan kepada Luther kisah seorang anak muda yang usianya tidak lama lagi. Anak muda yang baru 1 bulan menjadi orang Kristen ini menangis. Sang pendeta bertanya, “Mengapa engkau menangis, apakah engkau takut mati?”. Anak muda ini menjawab, “Saya tidak takut mati, Yesus telah menyelamatkan saya. Tapi, mestikah saya pergi dengan tangan hampa? Saya belum memberitakan Injil.” Tergerak oleh kesaksian ini Luther menuliskan sebuah lagu yang diperuntukkan bagi anak muda tersebut. Lagu tersebut di beri judul “Layakkah ‘ku Pergi dengan Tangan Hampa?”. Demikianlah lirik lagu ini:

Bila Tuhan memanggilku, layakkah ku jumpa Dia?
B'lum seorangpun kubawa, kembali pada Bapa.
Kini pulang tak'ku sesal, ‘ku t'lah di s'lamatkan-Nya.
Tapi hatiku sedihlah, kerjaku belum berbuah.
Ref    : Tangan hampa ‘ku pulangkah, jumpa Tuhan di Sorga?
  B'lum seorangpun kubawa, layakkah ku jumpa Dia?

Berapa jiwa yang sudah kita bawa kepada Tuhan dalam grace period yang Tuhan sudah berikan kepada kita?

=ER=

Follow Us on Instagram

Menu Utama

Sedang Online

We have 52 guests and no members online