Ringkasan Kotbah

Tema : “Merajakan Kristus Dalam Hidup
Yohanes 18:37
Oleh: Ibu Hellen C. Pratama

Pendahuluan:
Tema “Merajakan Yesus Dalam Hidup” adalah sebuah tema klasik yang secara teratur perlu digumulkan dan dimasukan ke dalam kesadaran dengan sengaja oleh setiap orang percaya. Merajakan Yesus dalam kehidupan, berbicara tentang memberikan hati dan hidup kita kepada-Nya dimana Dia boleh bertahta tanpa saingan di sana.

Isu Kristus menjadi Raja, terkait dengan kebenaran Justifikasi, dimana Yesus datang untuk menebus dirimu dan diriku melalui pengorbanan-Nya yang tuntas di atas kayu salib. Didalam kebenaran-Nya engkau dan aku dibenarkan, dikuduskan dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Sekali lagi diperdamaikan dengan Allah dan dikembalikan untuk hidup sesuai dengan desain Allah, ketika pertama kali menciptakan kita.

Isu Kristus menjadi Raja juga terkait dengan kebenaran Sanctifikasi Progressive; karena tidak akan ada orang kristen yang memiliki kesalehan hidup, tanpa terlebih dahulu menjadikan Kristus Raja dalam hidupnya. Tidak ada pengalaman pertumbuhan kristiani, pertumbuhan dalam kekudusan sampai seorang kristen me-Rajakan Kristus dalam hidupnya.

Ini tentang Kendali, Kedaulatan dan Ketaatan:

Ketika menyoal Kendali, Kedaulatan dan Ketaatan, ditengah zaman dimana figur yang berwenang banyak meng-abuse kewenangannya, menjadikan otoritas sebuah kata yang menimbulkan rasa tidak senang dan pemberontakan. Kita menyalah artikan otoritas sama dengan otoritarianisme atau kediktatoran. Sehingga dalam setiap lini hidup, ada sebuah pemberontakan untuk otonom, tidak ingin dipimpin, dan sikap arogansi yang menentang otoritas.

Tantangan Merajakan Kristus :

Adalah mudah untuk mengakui Kristus sebagai Raja di dalam kredo, dan menghidupinya di ruang persepsi. Namun ketika menarik pengakuan ini turun dalam praktek kehidupan sehari-hari, tidaklah semudah mengucapkan pengakuan iman, saya menemukan hal ini adalah perjalanan yang melibatkan pertobatan di sepanjang jalan dari saat kita dilahir barukan hingga kita jumpa dengan Tuhan. Dalam kenyataannya kesenjangan antara kredo dan praktek hidup  bisa terentang jurang yang luas. Dalam pergumulan ini, kita bergerak dari seorang Theistis dalam Kredo, yang artinya kita mengakui dan menerima adanya Tuhan, namun dalam praktek kehidupan sehari-hari di ketinggian dan kerendahan pengalaman hidup kita, tidak jarang kita menyangkali keberadaan-Nya, tidak memperhitungkan kehadiran-Nya, kita menjadi seorang Atheist praktis. Padahal Yesus mengatakan (Yohanes 18:37) untuk itulah Dia telah datang.

Fakta Pengalaman Keterkiliran Rohani (Spiritual Inverted)

Para ahli memberi penjelasan mengapa kita mengalami kesulitan untuk menghidupi kredo kita. Spiritual Inverted, saya menyebutnya keterkiliran rohani (keterjungkalan rohani), yang kita wariskan dari Adam dan Hawa. Ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia menciptakan kita sebagai mahluk “spiritual” dengan pengalaman manusiawi dan ditempatkan dalam dunia materi. Pada saat itu pengalaman rohani adalah pengalaman alamiah, Adam-Hawa bergaul dengan Allah secara alamiah, begitu saja… Tuhan mengunjungi dan bercakap- cakap dengan mereka di sore hari yang sejuk. Karena untuk tujuan itulah Allah menciptakan kita sebagai gambar dan rupa-Nya, kita di desain untuk bersekutu, bergaul dengan-Nya, dan untuk melayani maksud dan tujuan-Nya, dibawah pemerintahan dan ketaatan total kepada-Nya. Namun semua berubah, ketika Hawa dan Adam memilih untuk berhenti tunduk pada pemerintahan Allah, mereka ingin menjadi Allah bagi dirinya, manusia mengalami keterkiliran rohani sejak saat itu, manusia menjadi sangat manusiawi; sangat melekat dan mencintai materi dan dengan susah payah untuk sekali-kali menginginkan pengalaman rohani.

Ini menjelaskan mengapa pengalaman kita sebagai orang percaya begitu sulit untuk Merajakan Kristus dalam hidup kita. Seperti kata, DR. Yakub Susabda:
“Adalah Lebih Mudah Bagi Allah untuk menciptakan seluruh semesta daripada menolong seorang Kristen bertumbuh”.
Demikian pula gambaran dari doa seorang Teresa De Avilla “Lord I don't love You, and I don't want to love You, but please help me o Lord, grant me to want, to want to love You.”
Hanya anugerah dan kemurahan Tuhan-lah yang memampukan kita untuk bisa menghidupi kredo kita, “Merajakan Kristus dalam hidup”, dan untuk itulah Dia telah datang, menginvasi kehidupan kita untuk meluruskan keterkiliran rohani kita, agar kita di rekonstruksi kembali menghidupi desain-Nya ketika menciptakan kita. Untuk bersekutu, menyembah dan melayani kehendak serta tujuan-Nya. Dia menebus kita kembali untuk menjadi milik-Nya dan menginginkan kita hidup sebagai umat-Nya dan Dia sebagai Raja kita. Kita diciptakan untuk menyembah, jika penyembahan kita tidak diberikan kepada Allah maka kita akan mengalihkan penyembahan kita kepada yang lainnya.

Penutup:

Berbicara tentang Merajakan Kristus adalah berbicara tentang kendali, kedaulatan dan ketaatan, maka  periksalah siapakah yang memegang kendali utama atas hidup kita? Adakah Kristus menjadi penguasa utama dan satu-satunya yang berhak memerintahkan maksud-Nya dalam realita hidup kita sehari-hari?

Seperti yang dikehendaki oleh-Nya (Yohanes 18:37). Kepada kita Firman menyatakan Dia-lah Allah berdaulat atas segala kuasa di surga maupun di bumi, Kekuasaan dan Pemerintahan adalah milik-Nya, dan Dia menuntut ke taatan tanpa syarat dari setiap kita karena kita dicipta dan ditebus menjadi milik-Nya sepenuh-Nya.

Dia menginginkan kita menundukan diri kepada kedaulatan-Nya sebagai Raja menurut Alkitab, bukan Raja menurut ideal kita, sebagaimana orang banyak yang menginginkan Yesus menjadi Raja yang membebaskan mereka dari penjajahan Romawi dan menyediakan Roti Fisik. Tuhan mengoreksi mereka dengan mengatakan janganlah bekerja untuk roti yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai hidup kekal. (Yoh. 6:25-27) dan disana Dia memperkenalkan diri-Nya sebagai Roti Hidup Yoh 6:48.

=HCP=

Follow Us on Instagram

Menu Utama

Sedang Online

We have 41 guests and no members online