Ringkasan Kotbah

Tema : “Belajar Dari Jemaat Di Laodikia: Gereja Yang Suam-Suam Kuku/ Gereja Yang Tidak Dingin Dan Tidak Panas
Wahyu 3:14-22
Oleh: Pdt. William Liem

Jemaat Laodikia dari luar kelihatan baik-baik saja. Jemaat tetap melakukan kegiatan-kegiatan rohani dan ini terungkap dari perkataan Tuhan Yesus: “Aku tahu segala pekerjaanmu” (ay 15). Tapi permasalahannya, kerohanian dari jemaat ini amat parah di mata Tuhan: “engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas”. Tuhan Yesus tidak berkenan dengan semua kegiatan rohani di dalam gereja ini karena bersumber dari rohani yang tidak panas dan tidak dingin atau suam-suam kuku (ay. 16).

Darimana ungkapan “suam-suam kuku” berasal?  Kota Laodikia memiliki persediaan air di dua kota, yakni Hierapolis dan Kolose. Di Hierapolis, ada sumber air panas. Air tersebut bisa digunakan untuk pengobatan. Di Kolose, ada air dingin yang bisa diminum untuk segarkan badan. Air panas di Hieropolis dialirkan ke kota Laodikia, tapi jauh sebelum tiba di kota Laodikia, air panas itu sudah menjadi suam-suam kuku. Menurut penelitian, air yang suam-suam kuku mengandung kaporit tinggi. Bagi yang meminumnya akan merasa mual karena ada penolakan.

Sebagaimana percernaan kita yang cendrung menolak air yang suam-suam kuku, demikian pula dengan sikap Yesus Kristus yang menolak kerohanian yang suam-suam kuku. “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” (ayat 16). Ada ahli PB menafsirkan kerohanian yang panas adalah orang Kristen yang bersemangat dan berkobar-kobar bagi Tuhan (Roma Roma 12:11). Kerohanian yang panas dapat terbaca dalam perkataan John Calvin: “My heart I give you, Lord, eagerly  and entirely”. Kerohanian yang dingin adalah non Kristen, yang pada awalnya bisa menolak atau tidak tetarik pada Tuhan. Tapi melalui pemberitaan Injil, Tuhan bisa pertobatkan dia.

Sedangkan orang Kristen yang suam-suam kuku adalah yang setengah hati dan tidak berhasrat terhadap Tuhan dan pekerjaan-Nya. Mengapa jemaat Laodikia bisa mengalami keadaan rohani ini? Ayat 17: “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang”. Ketika mereka berkata : “aku kaya dan tidak kekurangan apa-apa” berarti jemaat telah kehilangan perasaan membutuhkan Tuhan. Padahal di mata Tuhan, mereka melarat, malang, miskin, buta dan telanjang. Benarlah pepatah yang mengatakan: “Penyakit yang paling berbahaya adalah orang sakit tapi tidak merasa diri sakit”.

Maka Tuhan Yesus berkata: “Maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari padaKu emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas mata- mu, supaya engkau dapat melihat (ay. 18). Ungkapan “membeli” menunjukkan pada hati yang remuk, sedih dan menyesal. “Emas yang dimurnikan oleh api” menunjukkan iman yang murni. Sedangkan pakaian putih menunjuk kapada kebenaran Allah. Lalu “minyak untuk melumas supaya engkau dapat melihat” menunjuk pada berita Injil yang mampu mencelikkan mata rohani yang buta.

Bagaimana kerohanian Anda pada saat ini? Panas, dingin atau suam-suam kuku.


=WL=

Follow Us on Instagram

Menu Utama

Sedang Online

We have 98 guests and no members online