Ringkasan Kotbah

Tema: “Kualitas Hidup Orang Percaya
Roma 8:18-23
Oleh: Pdt. Em. Agus Surjanto

Keselamatan adalah anugerah yang terlalu besar sehingga tidak pernah akan cukup untuk hanya disyukuri belaka. Keselamatan itu perlu dikerjakan dengan takut dan gentar (Filipi 2:12), artinya dikembangkan dan diusahakan sedemikian rupa sehingga menyenangkan hati Tuhan. Ada 3 alasan untuk hidup berkualitas sebagai orang percaya:


1. Alasan pemahaman (head): Karena kita sudah ditebus dari cara hidup kita yang dahulu yang adalah sia-sia dengan harga yang mahal, yaitu darah Tuhan Yesus sendiri (1 Petrus 1:18-19).
2. Alasan perbuatan (hand): Karena kita adalah garam dan terang yang harus menggarami dan menerangi hidup orang lain sehingga orang lain melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Tuhan (Matius 5:16).
3. Alasan emosional (heart): Untuk menunjukkan rasa kasih dan syukur kita kepada Bapa dan sesama (1 Yohanes 4:7-8).

Tetapi sebagai orang yang menyadari keberdosaan kita, apakah kita bisa untuk hidup berkualitas menyenangkan hati Tuhan? Kita seringkali hidup dalam bayang-bayang masa lalu kita sehingga kita tidak mampu hidup berkemenangan lagi, padahal sebenarnya semua orang percaya sudah dibekali dengan potensi/kemampuan untuk dapat hidup berkualitas di hadapan Tuhan. Dalam kitab Roma paling sedikit ada 4 potensi yang akan membuat kita mampu hidup berkualitas di hadapan Tuhan dan sesama:

1. Karena kita mempunyai Tuan yang baru (New Master), yaitu Tuhan Yesus (Roma 6:15-23 bandingkan dengan Yohanes 8:34). Memang kita dulu tidak mampu hidup berkualitas karena kita adalah hamba dosa, akan tetapi sekarang kita adalah hamba Kristus. Berarti tuan kita bukan Iblis, bukan dunia dan bukan pula ego kita. Banyak orang percaya salah mengerti dan merasa bahwa Iblis masih terus berkuasa atas hidupnya dan tahu semua apa yang dipikirkan. Itu dulu ketika kita masih jadi hamba dosa. Tetapi setelah diselamatkan Iblis tidak tahu apa yang kita pikirkan. Musuh kita yang paling besar sekarang bukan Iblis tetapi adalah ego kita. Apakah kita mau menyerahkan hidup kita kepada Tuhan kita yang baru Tuhan Yesus atau tidak? Apakah Alkitab dan kehendak Tuhan menjadi prioritas hidup kita atau tidak? Atau justru ego kita yang sekarang terus memimpin hidup kita.

2. Karena kita mempunyai hukum yang baru (New Law), yaitu hidup menurut Roh dan bukan dipimpin oleh Hukum Taurat (Roma 7:7-8:11 bandingkan dengan Yakobus 2:10). Ketika kita belum percaya maka ketaatan kita diukur melalui ketaatan pada Hukum Taurat dan kita pasti gagal karena melanggar satu berarti melanggar semuanya. Tetapi sekarang kita diukur melalui ukuran apakah kita hidup dipimpin oleh Roh atau tidak? Hidup dipimpin Roh berarti menjauhkan kehidupan berdosa dan menghindari kehidupan yang mendekatkan diri pada dosa. Kita harus mau mengijinkan Roh memimpin hidup kita.

3. Karena kita mempunyai Bapa yang baru (New Father), yaitu Allah sendiri (Roma 8:12-17 bandingkan dengan Yohanes 8:44). Kita dahulu adalah anak Iblis maka kalau hidup tidak berkualitas yang memang itulah gaya hidup anak Iblis. Tetapi setelah percaya kita adalah anak-anak Allah. Kita dapat memanggil Allah sebagai Bapa kita. Karena itu kita harus hidup berkualitas mencerminkan siapa Bapa kita. Jangan sampai kita menyandang sebuatan anak-anak Allah akan tetapi kelakuan kita seperti anak-anak Iblis. Itu memalukan Bapa di surga yang sudah menyerahkan AnakNya, Yesus Kristus mati untuk kita.

4. Karena kita mempunyai harapan yang baru (New Hope), yaitu kemerdekaan dan keselamatan sempurna dalam Tuhan Yesus (Roma 8:18-30 bandingkan dengan Efesus 2:12). Karena dosa maka manusia kehilangan surga dan hidup kekal. Manusia tidak lagi punya pengharapan masuk surga. Karena itu tidak ada gunanya dia hidup berkualitas, karena betapapun “baiknya” kualitas hidupnya, dia tidak akan pernah bisa masuk surga. Tidak ada pengharapan sama sekali. Kalau memang demikian maka untuk apa harus mempertahankan hidup yang berkualitas? Tetapi ketika dia menjadi orang percaya, maka dia mempunyai pengharapan baru bahwa dia pasti akan masuk surga. Karena itu sebagai rasa syukurnya kepada Allah, dia mau berusaha untuk hidup berkualitas, menyenangkan hati Tuhan yang sudah memberi jaminan hidup kekal itu. Untuk itu manusia baru itu rela untuk mengalami penderitaan demi kebenaran dan ketaatan kepada Tuhan.

– AS –

 

Menu Utama

Sedang Online

We have 96 guests and no members online