Ringkasan Kotbah

Tema: “Yesus Imam Besar Agung
Ibrani 4:14-5:10
Oleh: Bpk. Joy Manik

Walaupun tidak jelas siapa penulisnya, namun kitab Ibrani ini memberikan banyak pelajaran mengenai kehidupan. Tahun 67-69 merupakan perkiraan tahun penulisan kitab ini. Artinya, penerima surat ini tidak hanya sedang berada di perantauan tapi juga sedang mengalami tekanan dan kesulitan. Dalam situasi itulah, Ibrani pasal 4:14-15 menjadi bagian pengajaran yang menguatkan iman para petobat baru itu.



Yesus adalah Imam Besar Agung. Pemberian jabatan ini tidak lazim karena tidak ada imam yang sekaligus dikatakan ‘besar dan agung’. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus merupakan Pribadi diatas segalanya. Tidak hanya itu, Yesus juga dikatakan ‘melintasi semua langit’. Dalam tradisi orang Yahudi, ‘langit’ merupakan petunjuk akan tempat bersemayamnya Allah. Dalam 2 Kor. 12:2, terindikasi bahwa langit ketiga merupakan salah satu tingkatan dari langit itu. Namun Ef. 1:20-21 tertulis bahwa Yesus naik jauh tinggi dari semua langit. Ini memberikan petunjuk kuat bahwa penulis sedang mengatakan bahwa Yesus yang adalah Tuhan memerintah dan menguasai segala sesuatu di langit dan di bumi. Maka untuk fakta itulah, penerima surat diminta untuk meresponinya dengan ‘berpegang teguh’ pada pengakuan iman. Kata ‘berpegang teguh’ mempunyai tenses present yang berarti ‘terus menerus berpegang’. Dalam kehidupan yang sedang sulit, kita diminta untuk mengerti akan sebuah fakta bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa terjadi tanpa pengaturan Tuhan. Bahkan sesuatu yang tidak baik bagi kita sekalipun, diijinkan Allah untuk mengerjakan hal yang baik yang mungkin belum kita temukan.

Di ayat 15, penulis kemudian mengatakan bahwa Yesus bukan saja Imam Besar Agung yang memerintah (transenden) tapi juga Imam Besar yang turut merasakan kelemahan kita. Kata ‘turut merasakan’ lebih tepat diterjemahkan ‘tindakan menderita bersama-sama’ – dan kata ‘Ia telah dicobai’, dalam teks lain tertulis ‘tempted in every way’, atau dalam terjemahan bebas dikatakan: ‘dicobai dalam segala hal, dalam segala sesuatu, dalam banyak hal’. Artinya, Yesus mengerti dan turut menderita dalam penderitaan di bagian mental, fisik, atau perasaan. Ia sudah mengalami ‘segala cobaan’. Segala  pencobaan yang mungkin bisa dipikirkan oleh manusia, Yesus pernah mengalaminya. Demikian kita memandang dan melihat Yesus.

Penghiburan terbesar kita adalah, dalam segala situasi yang sedang kita alami, kita tidak pernah sendirian. Selalu ada Pribadi yang jauh memahami dan mengerti apa yang sedang kita jalani. Dan kehadiranNya memberikan pesan bahwa Kristus tidak datang untuk membuat hidup lebih baik tapi untuk menjelaskan bahwa Kristus jauh lebih baik dari hidup itu sendiri. Maka respon kita akan ‘Imanensi’ Kristus adalah, dengan datang kepadaNya dengan keberanian dan menemukan pertolongan kita pada waktu yang Ia tetapkan.

Without purpose, suffering is unexplainable! – Tanpa tujuan, penderitaan tak pernah dapat dijelaskan. Maka sebagai orang percaya, penderitaan adalah salah satu cara kita hidup menggenapi panggilan dan tujuan hidup kita yaitu menjadi serupa dengan Kristus.
Filipi 3:10: ‘Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan  dari antara orang mati.


=JM=

Follow Us on Instagram

Menu Utama

Sedang Online

We have 39 guests and no members online