Ringkasan Kotbah

Tema: “Perusak Persahabatan
Efesus 4:29; Amsal 16:23 – 28b
(nas ayat 28b)

Oleh: Pdt. Sandi Nugroho

Seorang pujangga mengatakan bahwa perkataan itu lebih tajam dari pedang. Lanjutnya "Jika sebuah pedang hanya dapat menusuk satu orang, berbeda dengan perkataan yang dapat membunuh atau menusuk ratusan bahkan ribuan orang sekaligus dengan lebih kejam". Memang ada betulnya ungkapan ini, dengan perkataan yang diucapkan atau dituliskan seseorang bisa memprovokasi, menghancurkan bangsa, membunuh karakter, mewariskan kepahitan dan dendam.

Namun di pihak lain, perkataan itu juga bisa membangun sebuah bangsa, memberi harapan, meneduhkan hati, membangkitkan iman dsb. Ibaratnya seperti paku yang ditancapkan ke sebuah batang kayu, pada saat pakunya dicabut pastilah ada bekasnya. Baik negatif maupun positif, memang pengaruh perkataan itu begitu kuatnya. Apalagi perkataan orang yang dekat dan berotoritas.

Rasul Paulus menyadari betapa kuatnya pengaruh perkataan dalam membangun relasi di kehidupan jemaat Efesus. Bisa menghancurkan, membuat kepahitan, kemarahan, pertikaian dan memecah belah, tapi juga bisa memperkuat relasi. Mengapa demikian? Karena perkataan bukan sekedar bunyi atau tulisan dari sistem bahasa yang mempunyai arti. Perkataan itu dianggap merepresentasikan keberadaan seseorang secara penuh. Pastilah kita merasa janggal, saat kita mendengar pernyataan “sebenarnya hanya perkataan saya menyakitimu tapi sungguh saya tidak menyakitimu”.

Melalui firman Tuhan hari ini mari kita belajar untuk memperkatakan sesuatu yang membangun relasi, membangun iman. Berdasarkan ayat-ayat sebelumnya yaitu 17-19 Rasul Paulus sudah menyatakan bahwa status kita adalah manusia baru dan kita berbeda dengan nilai-nilai duniawi, termasuk tentunya perkataan kita. Maka secara umum ada 3 indikasi dari kualitas manusia baru, yang juga berlaku untuk perkataan kita:


1. Memiliki Tujuan Mulia {ay 17}.
Tujuan mulia lawan dari pikiran sia-sia yang disebutkan dalam ayat 17. Tujuan di sini sebenarnya bicara tentang siapa {pribadi}, bukan apa {hasil}. Tujuan kita adalah Tuhan. Kalau Tuhan jadi tujuan maka kita akan benar-benar mempersiapkan dan mengatur perkataan yang kita akan sampaikan.

Pertanyaan implementatif: Apakah Tuhan senang dengan kata-kata ini? Bukan sekedar yang penting orang banyak senang, tapi Tuhan tidak senang. Sering kali kita berkata-kata agar orang senang dengan kita, tapi sebenarnya Tuhan tidak senang dengan perkataan kita.

Jadi perkataan yang membangun adalah perkataan yang bertujuan mulia, yaitu agar Tuhan senang dengan perkataan kita. Memang yang menyenangkan hati Tuhan tidak selalu menyenangkan hati manusia. Tapi semua yang menyenangkan hati Tuhan pasti membangun kehidupan manusia.

2. Memiliki Tutur Kata Kristus.
Dalam surat-surat yang lain Rasul Paulus menggunakan istilah perkataan Kristus {Kolose 3:16} dan perkataan Tuhan Yesus Kristus {1 Timotius 6:3}. Hal ini terjadi sebagai akibat dari relasi dekat dengan Kristus {ay. 18}. Dengan kita siapa kita dekat, seperti itulah jadinya hidup kita. Anda adalah dengan siapa anda dekat. Manusia baru memiliki tutur kata kristus. Tentu bukan dari model bicaranya, tapi dari kualitas isinya.

Pertanyaan implementatif: Apa yang akan Tuhan Yesus katakan untuk hal ini? Apa yang Tuhan Yesus katakan bila Dia ada dalam situasi seperti ini ya?.

Jadi perkataan yang membangun adalah perkataan yang memiliki tutur kata Kristus. Untuk bisa demikian memang mutlak kita harus memperkuat persekutuan kita dengan Kristus, agar perkataan kita hanya mencerminkan Tuhan Yesus.

3. Memiliki Tuntunan Ilahi.
Perkataan kita perlu mengandung tuntunan kepada kekudusan Allah. Perkataan ini tentu juga berlaku untuk dia yang mengatakannya, bukan hanya orang lain yang mendengarkannya. Ini bertentangan dengan perkataan yang membawa pada kecemaran dan hawa nafsu {ay. 19}. Yang lebih bahaya adalah perkataan yang kelihatan lurus atau manis tapi berujung pada maut. Perkataan yang mengandung tuntunan ilahi adalah obat yang menyembuhkan meski bisa rasanya pahit dan menyakitkan {Ams 16:24-26}.

Pertanyaan implementatif: Apakah kata-kataku ini membawa orang berserah? Atau lebih setia? Atau bertobat? Atau kembali dan mengingat Tuhan?.

Jadi perkataan yang membangun adalah perkataan yang menuntun seseorang kepada nilai-nilai kekudusan dan kebenaran Allah. Perkataan yang mengandung penguatan agar seseorang yang jatuh melihat pengharapan Tuhan.

Dengan kualitas seperti ini maka perkataan kita akan memberkati dengan kasih karunia Allah. Mari kita belajar bersama untuk meningkatkan kualitas perkataan kita sehingga perkataan kita membangun kehidupan kita secara pribadi, relasi dalam keluarga, komunitas dan orang-orang disekitar kita. Apalagi di tengah-tengah pelaksanaan PSBB di kota ini yang memungkinkan lebih banyak waktu di rumah dan tentunya lebih banyak transaksi kata-kata dengan anggota keluarga di rumah kita. Tuhan Memberkati dan Beserta kita.

=SN=

Menu Utama

Sedang Online

We have 47 guests and no members online