Ringkasan Kotbah

Tema : “Budak Tapi Merdeka
1 Petrus 2:11-17
Oleh: Pdt. Lindawati Mismanto

“Budak, tapi merdeka.” Bagaimana kita mengerti kata ini? Bagaimana mungkin seorang budak bisa hidup merdeka? Bukankah seorang budak hidupnya terjajah? Ia tidak mungkin punya impian atau keinginan sendiri. Kontradiktif, bukan?

Sama halnya bagaimana kita mengerti kalimat Petrus dalam ayat 11, “...aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging.... ” Kata “perantau” atau diterjemahkan sebagai “pilgrims” oleh KJV, artinya orang asing, atau lebih tepatnya, “peziarah ”. Sebagai perantau, tidak ada yang dapat kita lakukan selain menikmati semua kehidupan yang ada. Motto “pokoknya senang!” Apa saja bisa dilakukan untuk mencapai kesenangan. Nah, masalahnya tidak ada kesenangan yang gratis! Paling tidak “kesenangan” dalam pemahaman banyak orang. Semua harus dibeli dengan uang. Maka apa saja dilakukan demi uang dan demi mendapatkan kesenangan. Relasi manusia pun diukur berdasarkan “apa yang bisa kudapat dari dia”. Mengumpulkan sebanyak-banyaknya, dengan segala cara, untuk mencapai kesuksesan. Bukankah ini motto kebanyakan perantau? Namun di sini Petrus justru mengingatkan agar para pendatang dan perantau “menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging”.  Lagi-lagi kontradiktif!

Apa makna Petrus mengingatkan bahwa orang-orang Kristen yang disebutnya sebagai “saudara-saudaraku yang kekasih” adalah “perantau”?. Paling tidak ada dua hal. Pertama, jangan pernah lekat dengan apapun yang ada di dunia ini. Kelekatan akan membuat hidup kita menderita saat kehilangan. Tidak ada yang kekal di dunia ini. Sebagaimana perantau, suatu saat kita akan pergi. Apa yang paling berharga yang kita miliki saat ini, tak mungkin menjadi milik kita selama-lamanya. Karena itu, mari kita gunakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya.

Kedua, karena kita perantau, demikian kata Petrus, maka kita patut memperhatikan bagaimana kita hidup. “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi... ” (ayat 12) Sebagai orang asing, kita akan menjadi pusat perhatian. “Waspadalah!” kata Petrus.  Ini berbeda dengan paham yang dianut banyak orang Kristen. Karena surga rumah kita, dan bukan dunia, maka banyak orang Kristen tidak peduli pada apa yang terjadi di negeri ini.

Adalah menarik, jika kita melihat sejarah bagaimana Kristen ditetapkan menjadi agama negara di seluruh kekaisaran Romawi oleh Kaisar Konstantin Agung.  Yang jelas bukan karena Konstantin Agung menjadi percaya kepada Yesus, paling tidak itulah dugaan banyak orang, oleh karena ia sendiri baru dibaptis menjelang kematiannya. Lalu apa alasan Konstantin Agung mengharuskan warga negaranya menjadi Kristen? Tidaklah berlebihan, jika dikatakan bahwa Konstantin Agung terkesan dengan cara hidup orang-orang yang diberi label “Kristen”, yang ternyata hidup sebagai warga negara yang baik, cintai damai dan taat kepada pemerintah. Mungkin yang ada dalam pikiran Konstantin Agung, jika menjadi Kristen membuat seseorang menjadi warga negara yang baik, maka seharusnya Kristen ditetapkan sebagai agama resmi di wilayah kekaisaran Romawi. Memang alasan ini lebih tepat disebut alasan politis. Tetapi itulah yang terjadi.  Sayangnya, Konstantin tidak memahami (atau mungkin terlambat memahami?) bahwa Kristen bukan sekedar identitas yang bisa ditempelkan begitu saja. Kristen adalah jati diri yang melekat, yang mengubahkan hidup seseorang menjadi serupa dengan Kristus, sesuai tema tahun 2015 : “Transforming Life”.

Di sinilah kita mengerti apa arti perkataan “budak, tapi merdeka”. Sebelum kita menyadari dan bersedia tunduk sebagai hamba Allah, mustahil kita dapat menjadi merdeka. Orang merdeka adalah orang yang dapat menguasai dirinya. Orang yang tidak dapat menguasai dirinya kita sebut diperbudak oleh ... (tergantung apa yang menguasainya). Nah, siapa yang dapat menjadi orang merdeka? Orang yang bersedia menyerahkan dirinya pada pimpinan Allah dan melayani kepentingan Allah.  Apakah Anda orang yang seperti ini? Semoga.

=LM=

Follow Us on Instagram

Menu Utama

Sedang Online

We have 11 guests and no members online

Aplikasi Warta GKI

Aplikasi Warta "GKI Surabaya" adalah aplikasi yang memuat Warta Gereja, Ringkasan Kotbah, Renungan dll yang disimpan dalam format ebook dan dapat dibaca dari Gadget (HP, tablet) Android, Apple, dan Windows Phone Anda masing-masing.

Dengan adanya aplikasi ini akan mengurangi ketergantungan akan pencetakan warta yang kadang langsung kita buang dan kita dapat menyimpan warta tersebut untuk waktu yang lama.

Selengkapnya...